PEMULUNG PUN PESTA PUTAUW

 

06112007050.jpgPEMULUNG PUN PESTA PUTAUW

Krisis NARKOBA pada generasi penerus bangsa di negeri ini sudah sedemikian jauh dan sangat parah yaitu bukan hanya dikonsumsi oleh kalangan terbatas seperti para selebritis, anak pejabat, mahasiswa, pelajar SMU / SMP namun juga sudah sampai kepada pemulung dan anak jalanan (Kompas, 19 April 2004). Mungkin latar belakang kebiasaan orangtua yang serba membolehkan ikut mendorong penyalahgunaan narkoba pada sebagian remaja yang terbawa arus pergaulan di kota-kota besar. Hal tersebut tidak aneh dan banyak dijumpai dimana-mana.

 

Lalu yang unik mengapa pemulung dan anak jalanan seperti As,Ch dan Am di sekitar Tanah Abang juga terjerumus memakai putauw ditengah kesulitan dan keterbelitan hidupnya ?

Coba kita sama-sama belajar memahami faktor yang melatari fenomena ini.

Faktor utama adalah kemiskinan struktural dan juga budaya yang sudah terakumulasi sejak kecil sehingga mereka benar-benar miskin secara fisik maupun akhlak / kekosongan rohani. Perkembangan mental mereka tidak menunjang pembentukan keterampilan maupun nilai-nilai atau etika kehidupan karena lingkungan sangat kumuh.Tidak ada aturan yang melekat pada dirinya. Pikiran hanya terfokus untuk mencari makan demi kelangsungan hidup. Sisa-sisa barang yang kotor di berbagai tempat sampah justru menjadi tumpuannya untuk ditukar dengan sepiring nasi. Mereka diberi istilah pemulung yakni orang yang hidup dengan mengambil barang-barang yang dibuang dengan cara mengais layaknya ayam mencari makan. Tidurpun seadanya di perkumuhan, di lahan-lahan kosong, di kolong jembatan tanpa alas dan atap yang memadai. Pendek kata mereka kaum marginal yang hidupnya tersisih oleh kemajuan zaman.
Begitu juga tidak adanya harapan untuk memperbaiki nasib dengan jelas membuat hidup mereka tercekam, putus asa dan emosional.
Rasa lapar membuat mereka menjadi sangat sensitif, sadis dan berpikiran pendek dalam mencari jalan pintas untuk mengatasi kesulitan hidupnya seperti berjudi, berbohong, mencuri, mengertak orang, pelacuran dan menjual narkoba. Padahal beriman kepada Allah SWT merupakan kekuatan untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang munkar.
Kondisi yang parah ini menjadi lebih terpuruk lagi karena pengetahuan yang diperoleh sangat terbatas. Umumnya pemulung tidak sekolah. Mereka tumbuh dengan seleksi alam yang keras tanpa bimbingan dan pengajaran sehingga tidak mampu mengembangkan pikiran ke arah kisi- kisi kehidupan yang lain.

Bersama kemiskinan fisik, minimnya akhlak dan rasio yang tumpul maka penggunaan narkoba akan lebih memperburuk perilaku antisosial yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Luapan emosi dan pikiran sempit menjadi semakin menjerat bagai anak panah melesat jitu ke tujuannya yakni perbuatan kriminal.

Segalanya dihalalkan demi narkoba dan bukan lagi untuk kebutuhan primer. Menipu, mencuri, menjarah, memalak, merampok bahkan membunuh bisa menjadi bagian dari pola pikir adiktif pada mereka. Berdalih seperti minta uang untuk makan atau membantu teman yang sakit adalah pemandangan sehari-hari yang dapat kita temui di bus-bus umum. Bahkan ada yang terus terang minta uang dengan nada mengancam atau tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap sesama penumpang. Mereka tidak peduli bahwa penumpang lain sebenarnya orang yang juga tidak berkecukupan.

Meskipun kadangkala di antara mereka ada yang tertangkap, dipukuli sampai babak belur, masuk penjara, tertular HIV / AIDS atau meninggal dunia karena overdosis putauw namun mereka tidak pernah jera dan mau berubah.
Akhirnya lingkaran kemiskinan-kebodohan-tidak bermoral dan narkoba menjadi lilitan benang kusut yang sulit diurai lagi. Tidak ada dukungan dari keluarga maupun finansial yang sangat terbatas membuat sirnanya harapan sembuh bagi pemulung dengan ketergantungan narkoba.
Inilah sebuah cermin yang memantulkan wujud nyata atas semrawudnya kehidupan pada bangsa kita. Semua harus melihat dan tidak boleh apatis karena mereka adalah bagian dari kehidupan masyarakat kita juga.
Karena itu masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama bertanggung jawab berikhtiar yang berkesinambungan dalam upaya mengatasi lilitan narkoba meskipun memang tidak mudah.
Program demand reduction harus mendasar dan berkelanjutan seperti pembinaan akhlak & perilaku keluarga di samping pendidikan yang mencerdaskan semua sisi kehidupan (akal-emosi-spritual).
Sadarkah bahwa substansi kemerdekaan itu merupakan proses pencerdasan kehidupan bangsa ?
Berarti keberadaan kita sekarang untuk kelangsungan masa depan generasi penerus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: